Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 28 Oktober 2010

JIKA COWOK MENJADI PRIA SEJATI, APAKAH CEWEK MENJADI WANITA BIJAK ?

Tulisan ini adalah rangkuman ketika saya mempresentasikan sebuah topik di Komisi Pemuda “Youth Care Community” di gereja saya, GKIm Anugerah Solo. Tulisan ini saya ambil dari 2 buku : Boy Meets Girl (Joshua Harris) dan When GOD Writes Your Love Story (Eric&Leslie Ludy).
A. Peranan yang diberikan di Taman Eden
Menurut Allah, apa artinya menjadi laki-laki dan perempuan ?
Kej 1 :27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakannya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
• Adam dan Hawa diciptakan setara di mata Allah. Allah menciptakan perempuan sederajat dengan laki-laki, seharkat-semartabat. Perempuan tidak lebih rendah nilainya di mata Allah.
Dalam konteks kesetaraan, Allah memberikan peranan yang berbeda kepada laki-laki dan perempuan.
• Allah menciptakan Adam terlebih dahulu, pertanda peranan Adam yang unik sebagai pemimpin dan inisiator.
• Hawa diciptakan untuk melengkapi, mendukung, dan menolong suaminya. Pemberian Allah yang terbaik kepada seorang laki-laki adalah “penolong yang sepadan” (Kej 2:18). Arti “penolong” tidak memperkecil peranan perempuan, tetapi menerangkannya.
Laki-laki dan perempuan diciptakan sederajat, tetapi berbeda. Kenyataan bahwa mereka berbeda itu sungguh baik. Betapa membosankan dunia ini bila lawan jenis kita persis seperti kita :p
Dalam pernikahan, suami dan istri itu sejajar.
Efesus 5 :21-33
• Laki-laki / suami  mengasihi istri, rela berkorban, tidak mementingkan diri sendiri, sama seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya.
• Perempuan / istri  tunduk pada suami seperti gereja taat kepada Kristus (bukan ketundukan yang terpaksa, tetapi merupakan partisipasi yang aktif dan responsif terhadap kepemimpinan yang penuh kasih).

B. Rumahku Istanaku
1. Mereka
Ada 5 orang di planet bumi yang dapat lebih cepat membuatku jengkel daripada orang lain. Dan masing-masing kita memiliki seseorang seperti “mereka”, ada yang punya tiga, empat, bahkan lima. Namun, kita semua memiliki “mereka”. “Mereka” dalam kehidupanmu dan kehidupanku, begitu akrab. Kita mengetahui segala sesuatu ttg “mereka”, mulai dari lelucon jayus “mereka” hingga bau badan “mereka”.
“Mereka” adalah keluarga (terutama keluarga inti). Setiap orang di dunia mungkin terperdaya dan berpikir kita adalah malaikat yang sempurna, tetapi keluarga kita akan selalu mengetahui kebenarannya. Kita menuntut keluarga kita sempurna dan kita tidak memberi ruang untuk kesalahan. (contoh : terinjak). Orang2 terdekat kita tidak hanya menjengkelkan, tetapi mereka juga dapat melukai kita dengan cara yang tidak dapat dilakukan orang lain. Karena apa ? Karena merekalah KELUARGA kita!
Seringkali kita berusaha melarikan diri dari “mereka” dan berusaha memenuhi kebutuhan kita dengan “cara yang kita pilih” (persahabatan, hobi, hewan peliharaan, dll), dan bukan cara yang dipilih Allah. Kita memerlukan “mereka”, bukan hanya sebagai solusi dari kesepian, ttp sebagai bumbu rahasia dari kisah cinta yang berhasil.
Kehidupan kita dibentuk dari relasi. Allah merancang kita membentuk keluarga. Hub keluarga yang akrab adalah hal tersulit yang kita hadapi, karena kedekatan mengarah pada keterbukaan keadaan kita yang sesungguhnya.
Keluarga adalah tempat kita berlatih. Kita membawa ke dalam pernikahan kita kelak hal yang kita pelajari dalam kehidupan kita bersama “mereka”.
 
a. Belajar mengampuni dan menjadi seorang yang layak diampuni
Tampaknya tidak mungkin untuk memberi ampun atas tindakan2 “mereka”. Mengampuni itu tidak mudah, apalagi mengampuni “mereka”. Namun, jauh lebih sulit untuk menjadi seseorang yang layak diampuni. Kita mengeluh telah diperlakukan tidak adil oleh keluarga kita, tetapi kita gagal untuk menyadari bahwa kita telah bersalah karena menyakiti “mereka” juga. Kerendahan hati diukur dengan seberapa cepat kamu dapat mengakui bahwa kamu keliru. So, akuilah kesalahan dan belajar mengampuni “mereka”.
b. Belajar menghargai “mereka”
Kadang2 keluarga memang memalukan ! “Mereka” kadang memang tampak aneh. Sepertinya orang lain di planet ini adalah makhluk normal, sedangkan keluarga kita berasal dari luar angkasa. Ketika menikah, kita akan memahami bahwa bahkan pasangan kita memiliki karakter yang aneh.
Namun, belajar untuk setia mendampingi orang2 yang membuat kita malu adalah karakter Kristus. Kita memiliki sebuah pilihan. Kita dapat melabeli keluarga kita dengan predikat “memalukan” atau belajar untuk menikmati “kegilaan” mereka. Kita bisa kabur menyelamatkan reputasi kita yang berharga, atau kita bisa belajar menjadi seperti Kristus yang menghargai sisi “gila” dan menyenangkan “mereka”. Itulah inti dari pernikahan !
c. Belajar melayani “mereka”
Cara kita berperilaku di sekitar orang2 terdekat dan paling dikenallah yang akan kita terapkan di sekitar pasanganmu suatu hari nanti. Semakin kita dekat kepada pasangan kita, diri kita yang sebenarnya semakin terkuak. Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk melayani “mereka” ? Melakukan hal2 yang kecil dan terkesan tidak biasa kita kerjakan untuk “mereka”. Contoh : belajar menawarkan diri untuk mencuci piring (pria yang mencuci piring memiliki dampak yang besar pada perempuan !)

2. Tempat berlatih
Jika kita ingin memenangkan hati kekasih kita suatu hari nanti, kita perlu melatih diri dan mempraktekkan kelembutan sekarang. Medan latihan kita tak lain dan tak bukan adalah keluarga.
a. Ibu dan saudara perempuan (for man)
Mengapa merekomendasikan ibu dan saudara perempuan ? Karena mereka adalah bahan latihan yang paling sulit, dan mereka juga tidak akan salah mengartikan kelembutan sebagai lamaran pernikahan :p
Caranya :
• Belajarlah untuk memperhatikan hal2 kecil yang penting di dunia mereka (contoh : tatanan rambut, pakaian, cara berdandan, dsb)
• Katakan pujian dengan tulus dan bersuara (jangan hanya dipendam saja di dalam hati)
• Belajarlah untuk menjadi murid seorang perempuan  mempelajari cara kerja batiniah perempuan (contoh : ada perbedaan antara definisi perkataannya dengan makna sebenarnya di balik kata2nya).
• Belajarlah mengunci mulut; jangan memecahkan masalah tetapi dengar dan dekaplah.

b. Ayah dan saudara laki-laki (for woman)
• Merangkaklah ke dalam dunia laki2 dan amati apa yang penting di dalam dunia laki2 (makanan, olahraga, bentuk tubuh, dll)
• Temukan kesempatan untuk mendiskusikan topik penting di atas dengannya.
• Berhati-hatilah dengan perkataan (Laki2 membutuhkan kata2 yang membuat mereka merasa dihargai – berikan pujian)
• Jangan merendahkan apabila mereka menangis (bukanlah sesuatu yang haram bagi laki2 untuk menangis ketika mereka hilang akal).


C. Bersaudara dalam Tuhan sebelum menjadi suami-istri
Tidak perlu menunggu sampai menikah untuk dapat berpartisipasi dalam keharmonisan rencana Allah bagi kedua jenis manusia. Pernikahan tidak membuat kita menjadi laki-laki atau perempuan, kita sudah diciptakan seperti itu dari awalnya.
I Timotius 5 :12 >> Paulus menasihati Timotius untuk memperlakukan perempuan yang lebih muda sebagai “adik” dengan penuh kemurnian  menganggap perempuan sebagai saudari dalam Tuhan.
Intinya : peranan gender penting di sepanjang hidup kita.
Caranya ?
1. Jadilah pria sejati
Laki-laki yang dimaksudkan Allah bukan pasif atau terlampau agresif. Tuhan memanggil setiap pria untuk menjadi inisiator yang bersifat hamba (tegas – lemah lembut, maskulin – peduli, pemimpin – hamba)
a. Ambil peranan sebagai pemimpin dan inisiator dalam hubunganmu dengan seorang perempuan.
b. Memimpin (memberi arah, melontarkan ide, inisiatif pembicaraan,dll) adalah salah satu bentuk melayani.
Tidak berarti para pria berhak memperlakukan perempuan seolah suaminya. Dalam hub berpacaran pun ini bukan bagian para pria. Sampai seorang pria betul2 telah menjadi suami seorang perempuan, ia tidak wajib tunduk padanya.
Langkah praktis : Para pria, berinisiatiflah!
c. Jadilah pemimpin rohani dalam hubunganmu dengan seorang perempuan
Para pria-lah yang seharusnya memastikan bahwa hubungan yang berfokus pada Tuhan dan hidup dalam Firman-Nya (bukan hanya dalam hub berpacaran, tapi juga pertemanan laki2-perempuan).
Langkah praktis : mengejar pertumbuhan dalam kekudusan – jadilah teladan bagi perempuan dalam hal rohani.
d. Lakukan hal2 kecil dalam hubunganmu dengan seorang perempuan yang mencerminkan kepedulian, respek, dan keinginan untuk melindungi.
Langkah praktis : berikan kepedulian dan sikap respek sesering mungkin. Tetapi bukan untuk menarik perhatian perempuan, tp untuk melayani dan menghormati perempuan.
e. Berilah dorongan agar kaum Hawa mempraktikkan peran kewanitaannya sesuai dengan Alkitab
Kaum pria harus menjadi pemberi dorongan bagi waita yang sedang berusaha memuliakan Tuhan dengan mempraktekkan perannya yang sesuai dengan FT.
Contoh / langkah praktis : berilah pujian ketika seorang perempuan mengembangkan kecakapan bagi keluarganya kelak (mis : belajar masak, belajar asuh anak, dll).


2. Jadilah wanita bijak (sesuai dengan kehendak Tuhan)
Para wanita seharusnya hidup dengan merespons perintah-Nya sebagai seorang wanita.
a. Berilah dorongan dan kesempatan para pria untuk mempraktikkan kepemimpinannya.
Kaum wanita harus menghindari kebiasaan menjadi inisiator (bukan sama sekali tidak boleh berinisiatif, juga bukan berarti harus tunduk pada setiap pria).
Langkah praktis : pada waktu pria mengambil inisiatif dalam suatu kegiatan / persekutuan, dalam hal apa pun, berilah semangat dan hargailah.
b. Jadilah saudara dalam Tuhan bagi pria dalam hidupmu
Para wanita, pandanglah seorang laki2 Kristen sebagai seorang saudara dalam Tuhan, bukan sebagai calon pacar / calon suami yang potensial!
Dengan memberi dorongan kepada seorang laki2 untuk memimpin, itu bukan berarti perempuan tidak boleh memulai pembicaraan/memberi ide.
Langkah praktis : berilah kesempatan dan dorongan bagi kepemimpinan pria.
c. Tumbuhkan sikap yang memandang keibuan sebagai panggilan yang terhormat
Alkitab memberi dorongan kepada kaum Hawa untuk belajar ketrampilan rumah tangga dari wanita yang lebih tua (I Titus 2:3).
Langkah praktis : jangan ragu untuk mengasah ketrampilan untuk melayani keluarga nantinya (memasak, mengatur rumah, mengelola keuangan,dll).
d. Binalah kewanitaan yang Alkitabiah dan kecantikan batiniah dalam hidupmu
Jika kamu ingin pria sejati menghormati dan mengasihimu sbg wanita, jangan ikut2an dunia ini yang mementingkan kecantikan luar dan daya tark seks.
I Petrus 3:4  kecantikan wanita Kristen seharusnya terletak di dalam batin mereka.
Langkah praktis : waspadalah cara berpakaianmu ! (berpakaian “dengan menarik” atau berpakaian “untuk menarik”?)

Mari menjadi pria dan wanita yang sesuai dengan yang dipikirkan Allah ketika DIA membentuk kita ^^

Sabtu, 16 Oktober 2010

Amish People: Who Are They?

Because the Amish are so different from most Americans today, many people wonder if the Amish people from a foreign country? The answer to that question is “Yes and no.” The ancestors of nearly all of the Amish in America were here before the American Revolution. So in one sense, the Amish people are more American than the vast majority of U. S. citizens. After all, how many of us have ancestors who settled in America decades before the American Revolution?

However, in some aspects, the Amish people bear some resemblances to new immigrants from a foreign land. Except for a few American converts, almost all of the Amish are from Switzerland and the Palatinate region of southwest Germany. Although they have been in the United States for centuries, they still speak low German, referred to in the States as “Pennsylvania Dutch.” To be sure, virtually all Amish are bilingual and can speak fluent English. But their preferred tongue is Pennsylvania Dutch. This is the language in which they hold their church services and the language they speak among themselves.

In addition, the Amish people only marry among themselves. So instead of becoming part of the great Melting Pot of America, most Amish are still ethnic Swiss or German. Furthermore, some of the customs that make the Amish way of life unique are old customs their ancestors brought over with them from Switzerland and Germany.


Want to know more about Amish people ? -->> http://amishpeople.org/amish-people-who-are-they/