Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 28 Mei 2011

Resume Seminar “Julianto Simanjuntak” @ Solo (Chapter 2)


1.    Menangani Sisa Kemarahan
          Jika kita punya banyak kemarahan saat kanak2, terutama kepada ortu kebanyakan kemarahan itu bersisa hingga dewasa. Penyebab seseorang jadi cuek dengan kemarahan antara lain adalah anak2 tidak boleh marah sewaktu kecil (akan tambah dimarahi ortu kalo anak itu marah, ada lho yang kayak gini... :<). Sehingga kemarahan itu tersimpan sejak kecil. Bahaya marah yang tersimpan yaitu ketika dewasa terjadi gangguan pada emosinya - tidak bisa membedakan antara marah, sedih dan cemas.
Contoh : Seorang istri tau suaminya selingkuh, sebenarnya dia marah tapi yang keluar adalah tangisan... (ini contoh dr Pak Jul lho...)
Solusi lain untuk mengelola kemarahan adalah self-talking yaitu mengungkapkan kemarahan kpd Tuhan dalam doa. Metode ini digunakan bila kita sebenarnya marah tp tidak berdaya krn misalnya marah kepada atasan, dsb. Cara lain untuk mengelola kemarahan adalah dengan menemui orang yang berkonflik dengan anda untuk menangani akar kemarahan. Hal ini dalam dunia konseling disebut Terapi Inkarnasi : pemulihan dimulai dengan inisiatif untuk berdamai. Hal yang dilakukan adalah ucap syukur atas orang yang berkonflik dengan kita itu (bagaikan betadine :p ), dan belajar dari teladan Yusuf yaitu menyusun memori, berdoa, memulihkan diri, menemui dan mengungkapkan.
Ayat 27 berkata bahwa ketika kita marah jangan beri kesempatan kepada iblis, contohnya membayangkan saat2 yang membuat jadi marah sehingga iblis bisa pake itu untuk memprovokasi (emang tu si iblis tukang provokator ulung ;p). Jika sisa kemarahan disimpan akan membuat hati dan komunikasi menjadi sakit, ujung2nya merusak sistem pernikahan, keluarga, dan sahabat.

2.    Wujud2 Kemarahan
a.       Inferior (Minder) : penyebabnya adalah tumbuh dari kecil dengan perasaan tak berdaya.
Cara menubah ketakutan menjadi kekuatan : menulis/cerita kepada orang yg dapat dipercayai ttg kelemahan2 pribadi (mengakui dng berani siapa diri kita).
b.      Mudah marah : termasuk mudah tersinggung krn hal2 kecil
Karena sebagian energi diserap dr kemarahan2 yang terpendam sehingga menghabiskan energi positif, akibatnya pikiran gampang sempit, susah memaafkan dan pendendam.
c.       Sulit menyatakan emosi marah pada orang yang punya otoritas (meskipun sangat jengkel).
Simpanan ni bisa mengungkit kembali kemarahan pada ortu yang sejak lama terpendam.
d.      Gampang curiga atau jatuh dalam “mind-reading” (membaca pikiran orang)
Contoh : kata2 dalam hati “jangan2 dia tu...”, “Dia mau mempermalukan saya...”
Mind-reading menjauhkan kita scr emosi kepada orang yang dicintai/dihormati.
e.      Mudah tidak puas dan terperosok dalam kompetisi yang tidak sehat
Ciri2 : mudah cemburu / posesif
f.        Mudah meledak saat ada peristiwa pencetus yg berat, misalnya pasangan selingkuh, dll.

3.    Penanganan Sisa2 Kemarahan
a.       Sadari peristiwa2 dan orang yang membuat anda marah, lalu akui perasaan itu dng jujur lewat self-talk.
Cara ini memang sulit, krn memori2 itu mungkin sudah kita simpan dan “lupakan”. Syaratnya : hati yang baru oleh Roh Kudus/kelahiran baru, krn kemanusiaan kita terbatas shg pengampunan juga terbatas.
b.      Menuliskan pengalaman
Menulis itu menyembuhkan, menulis adalah saluran ekspresi2 jiwa. Ciri2 orang yang pulih : mengingat tp tdk merasa sakit lg.
c.       Temui sahabat yang dewasa scr emosi u/ berbagi
d.      Temui konselor profesional, makin besar luka makin besar daya pengampunan yang dibutuhkan.
e.      Berbuatlah baik kpd mereka yang melukai anda.
Membalas kejahatan dengan kebaikan adalah kunci kemenangan dari luka dan amarah kita.
Ini juga kan yang diajarkan Allah dan dilakukan Allah sendiri, membalas kejahatan manusia dengan kebaikanNya. Coba pikirkan, yang dijahati itu Allah, yang njahatin manusia, tapi Pihak yang dijahatin malah memberi kebaikan dengan limpah kepada yg jahatin. Bener2 kasih karunia ^^

Tambahan untuk poin (e) :
1 cara mendisiplin anak (Lukas 15) : anak menjengkelkan, tp ortu malah beri kebaikan (mis : hadiah). Sehingga anak akan belajar ttg cnta yang tak bersyarat, ujung2nya Kasih Allah yang tak bersyarat itu.. =)
Saya baru menyadari bahwa kebanyakan orang sulit menerima kasih Allah yang gak bersyarat krn sejak kecil mereka dicintai jika berbuat baik saja.


Sekian chapter 2 ^^ Kiranya jadi berkat n ayo belajar buat mengekspresikan kemarahan dengan sehat J




Kamis, 26 Mei 2011

Resume Seminar “Julianto Simanjuntak” @ Solo (Chapter 1)


Bbrp hari lalu tepatnya hari Selasa 24 Mei 2011 saya punya kesempatan buat dateng di seminar-nya Pdt. Julianto Simanjuntak, M.Div, M.Si. (makasiiiii bgt buat Ci Benita yang dah ngajakin :D). Judul seminar ini sebenarnya terkesan biasa tp isinya pentiiing bgt : MENGATASI SISA KEMARAHAN YANG TERSEMBUNYI. Acara seminar ini juga sekalian launching Griya Konseling “Pelikan” di Solo. Clap clap clap.... Hopes that counseling centre would  be a blessing for Solo :)


Karena bahasan materinya cukup puanjaaang, so saya coba membagi jadi 2 bagian. Biar gak bosen bacanya n bs lebih detil + dikasih contoh :)
Cekidot!
Ayat Alkitab yang diambil buat tema ini dari Efesus 4:25-27, 31.
(25)    Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota
(26)   Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu
(27) dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis
(31)  Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan

Pada ayat di atas, terkesan adanya paradoks/kontadiksi yaitu antara tidak boleh marah (ay 31) dan boleh marah (26) dengan syarat di ayat 27 yaitu jangan beri kesempatan kepada iblis.

Sebenarnya marah itu apa siy ?
Marah adalah emosi yang normal bagi manusia. Dalam kasus tertentu kita boleh marah dan harus marah. Kemarahan ada 2 macam : divine anger dan human anger. Kemarahan ada yang baik dan membangun (divine anger) dan ada yang merusak dan menghancurkan.
Dalam Alkitab, salah satu sifat Tuhan yang menonjol adalah marah / murka, tp jelas tujuan kemarahan itu untuk menegur umat-Nya yang berbuat dosa.

1.    Bahaya Kemarahan
Kemarahan yang berbahaya dan merusak adalah jika terlalu sering marah dan terlalu dalam karena sudah lama disimpan à akan menyerang orang lain.
Bbrp bahaya kemarahan menurut riset Harvard Medical School adalah kemarahan menggandakan resiko serangan jantung dibanding orang yang bisa mengendalikan kemarahannya.

2.    Pola Kemarahan
A.      Meledak ke dalam

Orang2 introvert biasanya punya pola kemarahan seperti berikut ini, dan pelampiasannya bisa mengurung diri, menyalahkan diri, menghukum diri, dsb.
Ada 3 cara :
1)      Disangkal : kemarahan akan berbalik kepada diri sendiri. Biasanya terjadi waktu kecil sering dilakukan terhadap ortu. Gejalanya suka menyalahkan diri untuk kesalahan pasangan, atasan atau orang yang anda takuti; orang lain merasa kita marah, tapi kita bilang tidak marah.
2)      Ditekan / dipendam : orang akan menganggap anda orang yang sabar, namun sebenarnya tidak. Sebab biasanya akan melampiaskan kemarahan itu pada sesuatu yang “aman” / tidak kentara bagi orang lain (ct : makan dan merokok berlebihan, memukul binatang, dll).
3)      Dilupakan : cara ketiga ini banyak orang mengalami, berusaha melupakan kemarahan tapi ingatlah bahwa ini tidak mungkin. Energi kemarahan sudah merasuk ke dalam diri sehingga akan meledak ketika ada faktor pencetus datang.
B.      Meledak ke luar

Reaksi marah keluar dalam beberapa wujud seperti : memukul benda/orang, berteriak/memaki.  Hal2 tsb bisa memberikan kelegaan  sementara tapi tidak pernah menyelesaikan akar penyebab kemarahan. Biasanya masalah akan berulang kembali dan perilaku tersebut menjadi sifat, sehingga dikenallah orang ini si pemarah.
C.      Mengelola kemarahan
Caranya buang sikap cuek dan belajarlah marah, yaitu dengan mengakui kemarahan pada waktu yang tepat dan dengan asertif (Asertif = menyatakan kemarahan dengan kata2 yang tidak menyerang orang lain/diri sendiri).
Misalnya :
“Saya merasa marah karena...”
“Saya sangat tersinggung karena...”
Ketika mengatakan “Saya marah”, maka energi kemarahan akan keluar.

Cukup sekian untuk chapter 1-nya yah, saya udah ngantuk n cuapeee sekali n besok harus brngkt kerja pagi2.
Sebelom chapter 1 ditutup, saya mau ambil penerapan dulu ah :p Saya mau belajar marah :D Caranya dengan tidak memendam/menyangkal kemarahan saya, saya sering buanget lho menyangkal kalo saya sbenernya memang marah, hehe. Tp juga bukan berarti mengeluarkan kemarahan dengan seenaknya alias beri kesempatan kepada iblis, bapa segala dusta itu :P

Bersambung di Chapter 2 !
See yaaa………..