Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 26 Mei 2011

Resume Seminar “Julianto Simanjuntak” @ Solo (Chapter 1)


Bbrp hari lalu tepatnya hari Selasa 24 Mei 2011 saya punya kesempatan buat dateng di seminar-nya Pdt. Julianto Simanjuntak, M.Div, M.Si. (makasiiiii bgt buat Ci Benita yang dah ngajakin :D). Judul seminar ini sebenarnya terkesan biasa tp isinya pentiiing bgt : MENGATASI SISA KEMARAHAN YANG TERSEMBUNYI. Acara seminar ini juga sekalian launching Griya Konseling “Pelikan” di Solo. Clap clap clap.... Hopes that counseling centre would  be a blessing for Solo :)


Karena bahasan materinya cukup puanjaaang, so saya coba membagi jadi 2 bagian. Biar gak bosen bacanya n bs lebih detil + dikasih contoh :)
Cekidot!
Ayat Alkitab yang diambil buat tema ini dari Efesus 4:25-27, 31.
(25)    Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota
(26)   Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu
(27) dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis
(31)  Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan

Pada ayat di atas, terkesan adanya paradoks/kontadiksi yaitu antara tidak boleh marah (ay 31) dan boleh marah (26) dengan syarat di ayat 27 yaitu jangan beri kesempatan kepada iblis.

Sebenarnya marah itu apa siy ?
Marah adalah emosi yang normal bagi manusia. Dalam kasus tertentu kita boleh marah dan harus marah. Kemarahan ada 2 macam : divine anger dan human anger. Kemarahan ada yang baik dan membangun (divine anger) dan ada yang merusak dan menghancurkan.
Dalam Alkitab, salah satu sifat Tuhan yang menonjol adalah marah / murka, tp jelas tujuan kemarahan itu untuk menegur umat-Nya yang berbuat dosa.

1.    Bahaya Kemarahan
Kemarahan yang berbahaya dan merusak adalah jika terlalu sering marah dan terlalu dalam karena sudah lama disimpan à akan menyerang orang lain.
Bbrp bahaya kemarahan menurut riset Harvard Medical School adalah kemarahan menggandakan resiko serangan jantung dibanding orang yang bisa mengendalikan kemarahannya.

2.    Pola Kemarahan
A.      Meledak ke dalam

Orang2 introvert biasanya punya pola kemarahan seperti berikut ini, dan pelampiasannya bisa mengurung diri, menyalahkan diri, menghukum diri, dsb.
Ada 3 cara :
1)      Disangkal : kemarahan akan berbalik kepada diri sendiri. Biasanya terjadi waktu kecil sering dilakukan terhadap ortu. Gejalanya suka menyalahkan diri untuk kesalahan pasangan, atasan atau orang yang anda takuti; orang lain merasa kita marah, tapi kita bilang tidak marah.
2)      Ditekan / dipendam : orang akan menganggap anda orang yang sabar, namun sebenarnya tidak. Sebab biasanya akan melampiaskan kemarahan itu pada sesuatu yang “aman” / tidak kentara bagi orang lain (ct : makan dan merokok berlebihan, memukul binatang, dll).
3)      Dilupakan : cara ketiga ini banyak orang mengalami, berusaha melupakan kemarahan tapi ingatlah bahwa ini tidak mungkin. Energi kemarahan sudah merasuk ke dalam diri sehingga akan meledak ketika ada faktor pencetus datang.
B.      Meledak ke luar

Reaksi marah keluar dalam beberapa wujud seperti : memukul benda/orang, berteriak/memaki.  Hal2 tsb bisa memberikan kelegaan  sementara tapi tidak pernah menyelesaikan akar penyebab kemarahan. Biasanya masalah akan berulang kembali dan perilaku tersebut menjadi sifat, sehingga dikenallah orang ini si pemarah.
C.      Mengelola kemarahan
Caranya buang sikap cuek dan belajarlah marah, yaitu dengan mengakui kemarahan pada waktu yang tepat dan dengan asertif (Asertif = menyatakan kemarahan dengan kata2 yang tidak menyerang orang lain/diri sendiri).
Misalnya :
“Saya merasa marah karena...”
“Saya sangat tersinggung karena...”
Ketika mengatakan “Saya marah”, maka energi kemarahan akan keluar.

Cukup sekian untuk chapter 1-nya yah, saya udah ngantuk n cuapeee sekali n besok harus brngkt kerja pagi2.
Sebelom chapter 1 ditutup, saya mau ambil penerapan dulu ah :p Saya mau belajar marah :D Caranya dengan tidak memendam/menyangkal kemarahan saya, saya sering buanget lho menyangkal kalo saya sbenernya memang marah, hehe. Tp juga bukan berarti mengeluarkan kemarahan dengan seenaknya alias beri kesempatan kepada iblis, bapa segala dusta itu :P

Bersambung di Chapter 2 !
See yaaa………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar