Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 02 Mei 2017

Memori Tentangmu πŸ‘ΌπŸŒ·

Hari ini aku mengenang my unborn baby. 2 Mei malam hari adalah malam dimana dia terlepas dari rahimku. Sampai kapanpun pengalaman itu tidak akan terlupakan.

Kamu... yang sangat aku nantikan sekian lamanya waktu.
Kamu... yang aku tidak pernah tahu entah kamu lelaki atau perempuan. Kamu... yang tidak pernah kulihat bentuk dan rupamu.
Kamu... yang saat itu aku tahu hanya berbentuk noktah2 kecil di ruang gelap kecil di tubuhku. 
Kamu... yang telah berbagi nafas dan darah denganku.
Kamu... yang bahkan detak jantungmu belum pernah aku dengar, tapi aku tau kamu bukan hanya segumpal daging. 
Kamu... yang telah berjuang bersamaku di masa2 itu.
Kamu... yang belum pernah kujumpai tapi sangat kuinginkan dan kucintai. 
Ya kamu, sulungku yang belum jadi terlahir... aku menginginkanmu tetapi Pencipta kita belum mengijinkan aku memeluk dan menimangmu. 

Kelak jika Pencipta kita berkehendak ada adik2mu bagiku...aku akan bercerita kepada mereka tentangmu. Tentang kamu yang sempat mengisi ruang gelap yang mereka diami. Tentang bagaimana kita telah berjuang bersama di masa2 sulit itu.
Tentang bagaimana Pencipta kita membuat segala yang terjadi begitu smooth dan alami.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk para wanita di luar sana yang juga pernah mengalami loss of a baby. Entah itu keguguran, bayi lahir meninggal,atau meninggal beberapa saat setelah dilahirkan.
Mari saudari, kita berjuang bersama untuk menepis segala trauma yang mungkin masih membekas.
Mari kita berjuang bersama untuk menyadari bahwa segala sesuatu yg terjadi pasti ada alasan di baliknya. Mari kita selalu ingat bahwa kita tak kuasa memegang hidup seseorang, walaupun kita sendiri yg mengandungnya.

- 2 Mei 2017 -
πŸŒ·πŸ‘ΌπŸŒ·

Minggu, 09 April 2017

Belajar mempercayai hatiNya

Dulu sebelum menikah saya berpikir kalo perjuangan mengenal kehendak Allah yg terbesar dalam hidup adalah soal pasangan hidup, dan itu sudah berhasil saya lewati. Tetapi ternyata itu pemahaman yg salah, karena setelah menikah pun saya kembali dihadapkan pada perjuangan bagaimana mengenal kehendak Allah itu untuk hal yang lain, yg mungkin lebih kompleks.

Memang ya, sbg anak2 Allah sampai kita pulang ke Surga nanti kita harus terus berjuang untuk memahami kehendak Bapa bagi hidup kita ☺
Saya tau bukan kebetulan kalo 2 hari ini saya mendengar dan membaca Firman yang berbicara mengenai hal yang sama. Dan hal ini terjadi saat hati saya sedang down, saya gelisah dan penuh pertanyaan dalam hati, yang tidak bisa saya ungkapkan kepada orang lain. Ya, masih pergumulan yg sama mengenai keturunan.

Kemarin ibadah Minggu, tema pemberitaan Firman Tuhan adalah tentang bertahan dalam penderitaan. Beberapa poin yg saya dapatkan :
☆ Seringkali kita berdoa meminta kepada Tuhan untuk dilepaskan dari kesusahan atau meminta suatu berkat. Setelah itu kita seolah-olah sabar dengan setia menantikan jawaban Tuhan..tapi kita lupa tidak pernah bertanya apakah kehendakNya. Salah satu contoh yang disebutkan pemberita Firman yang cukup menampar hati saya adalah "belasan tahun menikah berdoa meminta anak, sabar menanti2kan... kemudian punya anak tapi rumah tangganya malah berantakan".
Saya sadar bahwa selama ini saya selalu berdoa seakan2 mendorong2 Tuhan memberikan yg saya mau dengan cepat, tapi saya tidak pernah bertanya apakah adanya anak dalam pernikahan saya memang adalah kehendakNya.
Kita selalu tergesa-gesa tapi Tuhan tidak. Dia tidak pernah terlalu cepat atau terlambat. Karena itu saya harus belajar menanti, bukan menanti yg saya mau tetapi yg Tuhan mau.

☆ Jangan jadi orang Kristen yang sekedar menanti mujizat tapi tidak mau menikmati hadirat Tuhan dan FirmanNya. Maunya mujizat ini dan itu tapi tidak mau mengenal Tuhan-nya.
Saya juga tertampar di bagian ini, pernah saya meminta Tuhan untuk menyatakan mujizatnya sehingga saya bisa hamil. Tetapi saya lupa untuk menikmati kehadiranNya, menikmati indahnya berdoa dan menggumuli Firman dalam setiap proses pergumulan yg saya jalani.

Di akhir kotbah, pesan yang disampaikan adalah supaya kita belajar menanti apa yg jadi maunya Tuhan, berhenti mengasihani diri kalo saat ini masih diijinkan berada dalam pergumulan, dan belajar menjadi berkat bagi orang lain ketika dalam penantian itu.

Pagi tadi ketika saya renungan, bacaan diambil dari kisah Ayub yg setia dan taat kepada Tuhan meskipun segala yg buruk telah menimpanya. Penderitaan saya belum punya anak sangat jauh di bawah penderitaan Ayub, tetapi Ayub bisa berhasil melewati semua itu dengan benar. Saya juga harus belajar setia seperti Ayub.
Satu yang pasti bahwa rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera dan Dia tidak pernah merancangkan hal yang jahat.

Sebuah petikan lirik lagu dari Babbie Mason yg maknanya begitu indah.. 
God is too wise to be mistaken
God is too good to be unkind
So when you don't understand
When you don't see His plan
When you can't trace His hand
Trust His heart
Trust His heart
Saat ini mungkin saya tidak (belum) melihat rencanaNya, apa yg jadi kehendakNya. Seolah-olah Tuhan diam, saya tidak bisa menggapai tanganNya. Tetapi saya mau belajar mempercayai hatiNya.

Rabu, 22 Maret 2017

Bukan Perkara Menang atau Kalah

Kalau urusan hamil dan punya anak itu adalah sebuah kompetisi, maka aku sudah sangat kalah.

Ya, sangat kalah. Karena banyak dari mereka entah yg kukenal atau hanya kuketahui saja, yang menikah setelah aku kini sudah menimang bayi mereka. Bahkan ada beberapa diantara mereka yang setelah menikah bulan berikutnya langsung mendapat 2 garis.

Bulan Maret ini jadi bulan yang galau buatku, karena di bulan ini setaun lalu aku positif hamil. Suatu kegembiraan yang tidak terkira ketika mendapati 2 garis itu. Namun kenyataannya harus kuret di uk 9W.
Ketika sedang sendirian, sering aku bertanya kepada Tuhan kenapa mereka yg "tidak berusaha" tetapi Tuhan berikan dengan cepat? Sedangkan aku yg sudah mengusahakan sedemikian rupa namun tidak juga Engkau beri?

Namun siapakah aku ini hingga berani menggugat kedaulatan Tuhan? DIA mau memberikan kepada siapa itu adalah murni hak dan kedaulatanNya saja. Demikian juga DIA memberi atau tidak memberi kepadaku itu adalah juga kedaulatanNya.

Tuhan, doaku hanya beri aku kesabaran, keberserahan penuh pada KuasaMu sambil aku juga melakukan bagianku untuk mengusahakan. Jangan biarkan iman ini layu, tetapi jadikan imanku semakin bertumbuh justru karena ujian ini.

Kalau urusan hamil dan punya anak itu bagaikan sebuah kompetisi lari, meskipun kalah aku tetap harus menyelesaikan pertandinganku sampai garis akhir.

Senin, 13 Maret 2017

Iman yang layu

Beberapa waktu terakhir ini rasanya adalah masa gelap dalam perjalanan hidup saya. Pergumulan yg menetap dan datang-pergi membuat saya begitu down dan merasa sudah tidak punya daya lagi untuk menghadapi hari2 saya.

Pergumulan yang menetap hingga saat ini adalah mengenai anak. Setelah keguguran Mei 2016 lalu memang saya belum hamil kembali, walaupun sudah dicoba dengan berbagai cara medis dan herbal. Saya merasa sangat lelah dan jenuh dengan penantian dan program2 hamil ini, saya juga udah pernah tulis tentang ini ya di postingan sebelumnya.

Minggu2 kemarin puncaknya segala kepenatan, kekhawatiran, keresahan hati saya. Efeknya saya tidak bersemangat melakukan apa2, berdoa, baca Alkitab, bekerja, bahkan melakukan pekerjaan rumah tangga sebagai kewajiban saja. Efek yg lain lagi saya jd gampang tersinggung, sensitif sekali dengan suami atau orang lain, marah2 dan ngomel tidak jelas alasannya.
Ya memang saya masih ke gereja untuk beribadah, tapi rasanya kosong dan hampa. Bahkan setiap lagu pujian yang dinyanyikan saya sangsikan dalam hati. Saya merasa bahwa berharap kepada Tuhan itu sia2. Sia2 saya menanti pertolongan Tuhan dan jawaban doa saya. Pernah suatu waktu ketika saya sendirian, terucap "Tuhan apakah benar tiada yg mustahil bagiMu? Kalo benar, mengapa Engkau tdk segera memberikan kehamilan untuk saya, padahal itu hal yg gampang bagiMu". Saya mulai meragukan rencana Tuhan bagi diri saya.

Kemarin hari Minggu saya juga beribadah, dengan setengah hati saya datang. Saat itu dalam hati kecil saya, saya berkata Tuhan jangan biarkan iman saya layu dan akhirnya mati, tolong tarik saya kembali. Kalo memang iman saya saat ini hanya bisa bertumbuh melalui mujizat, tolong kerjakanlah itu. Setelah itu saya mulai mencoba menikmati keindahan waktu beribadah seperti biasanya. 

Beberapa hari ini meskipun masih up and down, tapi saya merasa Tuhan sedang menjagai iman saya, perlahan Dia menarik saya kembali mendekat kepadaNya meskipun kemanusiaan saya yg lemah sering mencoba melepaskan diri. Ketika saya masih enggan untuk berdoa, Dia sendiri yang menolong saya untuk berdoa, bahkan Dia mengerti walaupun yang keluar bukanlah kata2 tetapi hanyalah tetesan air mata.
Bagi siapapun yang membaca tulisan ini dan terbeban, tolong doakan saya ya. Atau siapa saja yang memiliki pergumulan yang sama mengenai perjuangan untuk hamil, mari silakan kontak saya dan kita bisa sama2 berbagi untuk saling menguatkan di dalam Tuhan.

-GBU readers-