Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 19 Oktober 2017

2nd Pregnancy and kuret again...(Part 2)

Di part pertama saya udah cerita tentang awal kehamilan kedua saya yg lalu. Di part kedua ini saya mau cerita saat gimana saya tau janin saya udah meninggal di dalam dan proses kuretnya.
22 Sept 2017
Akhirnya hari yang saya tunggu2 dateng juga. Hari ini jadwal kontrol ke dr. Soffin. Beberapa hari sebelumnya saya galau banget, pengen rasanya cepet kontrol..entah kenapa saya berasa kuatir banget saat itu.
Jam 6.30pm saya udah sampai di tempat praktek, masih ada pasien di dalem jadi saya tunggu dulu. Waktu nunggu itu sy blg ke hubby, ke dokter kandungan selalu bikin aku deg2an takut mcm2 (dari sejak tau ada kista, sampe program hamil yg panjang,kami udah dtg ke lebih dari 7 dokter kandungan di Solo, dari diagnosa yg gak enak n biasa aja udah pernah kami denger..*fiuh**elapkeringat*). Tapi waktu nunggu yg kemaren itu memang feeling sy udah gak enak bgt, akhirnya saya berusaha pasrah aja apapun hasil kontrolnya nanti).
Akhirnya giliran saya masuk ruang priksa. Dokter menyapa kami, bertanya keluhan saya, dsb. Lalu saya mulai di-USG abdomen. Beberapa detik kemudian janinnya ketemu n udah berbentuk, saya udah lega waktu itu. Trus dokter diam sebentar, beliau mencari detak jantung janin saya tapi tidak ditemukan. Saya yg udah lega jadi was2 lagi, tapi msh berharap nanti akan terdengar. Trus dokter mencari2 lagi, tapi sunyi sama sekali tidak ada DJJ. Kemudian dokter meminta ijin untuk USG Trans-V untuk lebih pastinya, kami setuju. Selanjutnya saya diUSG TransV dan DJJ tetap tidak ada. Dokter juga memperdengarkan melalui doppler, tetap sunyi...janin saya tidak berdetak. Kemudian dokter memperbesar penampakan janin saya di layar, beliau kemudian bertanya kalo dia harus jujur bicarakan yg sebenarnya apakah kami siap. Saya langsung menjawab "iya dok." Beliau menemukan ada kelainan bawaan di janin saya melalui tanda di USG dan berkata bahwa janin ini sudah meninggal, tidak mungkin berlanjut kehamilannya, dan harus dikuret. Saya shock mendengarnya, terlebih suami saya. Saya bertanya apa mungkin detak jantung keluar belakangan? Dokter berkata tegas bahwa tidak mungkin. Sebenarnya saya juga pernah baca kalo DJJ sdh bisa dideteksi saat janin 6-7minggu apalagi melalui USG Trans-V...tapi itu pertanyaan manusiawi saya yg berharap bahwa masih ada kemungkinan janin saya akan hidup. Janin saya sebenarnya berkembang sesuai umurnya tapi tidak ada DJJ. Dokter mendiagnosa IUFD (IntraUterineFetalDeath).


Lalu dokter memberikan surat pengantar untuk kuret besok paginya, serta obat untuk mempermudah kuret besok. Kami yg masih shock atas diagnosa dokter, juga harus menerima kenyataan untuk kuret besok pagi. Kami sedikit berdebat dengan dokter mengenai beberapa hal karena kami benar2 shock dan bingung.
Pulang dari tempat praktek kami langsung ke RS PKU Muh untuk bertanya prosedur dsb, karena hanya di RS itu dr. Soffin melakukan tindakan.
Malam itu jadi malam yg panjang bagi kami. Kami belum bisa berpikir jernih, dan harus segera memutuskan malam itu juga apakah mau minum obat peluruh untuk membantu proses kuret besok paginya atau menunggu 1 minggu lagi sambil berharap ada detak jantungnya.  Akhirnya malam itu kami putuskan untuk kuret besok pagi, dengan pertimbangan informasi dr dokter, browsing, dan feeling+firasat. Malam itu kami harus menyiapkan keperluan untuk pagi2 sekali ke RS, menitip bbrp pesan ke papa mengenai toko, memberi kabar ke keluarga (dan pasti juga menjelaskan karena mereka pasti bertanya kenapa).
Malam itu kami hanya menangis berdua sampai larut malam. Tidak ada yang bisa kami ucapkan lagi kecuali tangisan. Malam itu menjelang dini hari baru bisa tidur. Esoknya, pagi2 sekali saya sudah bangun, bersiap2, dan jam 6 sudah tiba di RS. Setelah dilakukan pemeriksaan awal di IGD sesuaƫi prosedur, saya masuk ruang bersalin untuk pasang infus, ambil darah, rekam jantung, dsb. Kira2 pukul 8 lewat dokter anestesi masuk ke ruangan dan saya mulai dibius.


Tidak ada satu jam kemudian saya mulai sadar, tapi rasanya berat sekali untuk membuka mata dan kepala saya sangat pusing. Dalam kondisi masih setengah sadar samar2 saya tahu suami, mama, dan cicik saya bergantian masuk. Saya juga samar2 ingat bahwa ketika saya belum sadar sepenuhnya, saya menangis. Perasaan saya saat itu bercampur aduk. Ada menyesal karena begitu cepat memutuskan mengeluarkan janin saya, kecewa karena sebenarnya kehamilan saya berjalan baik sampai 9W tanpa flek, sedih karena kehilangan calon baby, takut kalo ini akan berulang terus. Rasanya saya ingin berteriak "Apa lagi Tuhan????Kenapa harus saya??? Kenapa baru saja merasakan bahagia bs hamil kembali tapi diambil lagi???"

Sekitar jam 10 saya sudah pindah ke kamar rawat. Trus temen deket saya dtg menengok. Dia jg kaget dan speechless karena dia sangat bahagia ketika tau saya hamil, dan ikut memantau kehamilan saya. Lalu dia mendoakan kami, saat itu saya mengamini seperti yg tertulis di Alkitab bahwa ada sahabat yang lebih karib drpd seorang saudara dan itu saya temukan dalam diri teman saya tadi.
Sepanjang siang stamina saya berangsur-angsur membaik walo masih sedikit pusing, sorenya saya sudah diijinkan pulang.
Sampai di rumah, saya menjadi sedih lagi...bahkan sampai beberapa hari setelahnya saya dan suami seperti linglung. Kami masih shock, masih sering teringat memori ketika saya hamil, obrolan2 candaan kami mengenai calon baby, impian dan harapan kami tentang kehamilan itu, juga harus kembali ke rutinitas harian seperti ketika saya belum hamil. Rasanya seperti ada yang hilang diambil dari kami.
Bicara mengenai feeling dan firasat (jika boleh dibilang begitu), beberapa hari sebelumnya memang tanda2 hamil yg saya rasa beberapa minggu sudah mulai berkurang. Beberapa malam saya juga sulit tidur nyenyak. Dan malam sebelumnya saya mimpi mengorek kotoran telinga saya dan anehnya kotoran itu tidak habis2, saya korek terus tetap ada lagi, mungkin itu salah satu pertanda bahwa ada sesuatu yg hrs dikorek keluar dari tubuh saya.
You don't know how strong you are, until being strong is the only choice you have. Itu status bbm saya ketika saya akan dikuret. Ya, saya harus kuat, bukan karena memang hanya itu pilihan saya, tetapi saya harus kuat karena saya pasti akan mampu melewati ini.
Sedih? Wajar. Kecewa? Pasti. Kehilangan? Banget. Sesuatu yang bener2 dijaga, diberi nutrisi yg terbaik, diharapkan sekali, dirindukan... tapi seketika harus diambil. Menyesal? Tidak. Karena kami sudah berusaha jaga janin ini semampu kami, perkara hidup atau mati bukan kuasa kami sebagai ortunya.
Sejak awal, sy sdh bertekad sy gak mau kehilangan lagi...tapi ternyata TUHAN ambil.. ya sudah.. belajar melepaskan.
Meski sulit dan berdarah-darah.
Kehilangan janin yg pertama... sy lebih mudah untuk let it go krn kondisinya memang sudah seperti itu (flek dan pendarahan), tapi ini... tidak ada sedikitpun flek, kehamilan berjalan baik dari hari ke hari... harus dikeluarkan..hati saya... hati kami hancur.
Terbersit teriakan mengapa kpd TUHAN... Tapi memang tidak semua yg terjadi dalam hidup perlu kita tau maksud dan tujuannya itu diijinkan terjadi. Mungkin kelak sampai di Sorga sana kami jg tdk mengerti jawabannya.
Namun, TUHAN tetap baik dan DIA tidak pernah merencanakan yang jahat. Dalam ketidakmengertian ini... saya hanya meminta TUHAN tolong kalo ini diijinkan terjadi, kuatkan kami melewatinya dan jangan biarkan kami jd tawar hati.
Sekarang sudah hampir sebulan sejak saya kuret, saya sudah lebih semangat dan mental saya berangsur pulih... sesekali memang jadi baper kalo liat orang hamil/orang lahiran/bawa bayi. Yah, waktu yang akan menyembuhkan...
Menuliskan ini semua hati saya rasanya bergetar. Saya berjuang untuk mengingat detil yang sebenarnya tidak ingin saya ingat, dan menuliskannya. Saya harus berhenti sejenak2 untuk menarik nafas, mengingat dan menulis lagi. Saya percaya menulis adalah salah satu cara saya untuk pulih, dan ketika saya membacanya lagi kelak disaat itu saya akan tersenyum karena saya telah mampu melewati ini smua.

-19 Okt 2017-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar