Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 23 Januari 2012

CHILDREN MINISTRIES – Part III

  Di postingan Children Ministries part I kita udah belajar tentang pelayanan Anak dan apa dasar Alkitab tentang itu. Posting berikutnya di part II kita belajar secara khusus tentang sejarah Sekolah Minggu dan pentingnya pelayanan SM di gereja. Berikutnya, di part terakhir ini kita mau bahas tentang Guru Sekolah Minggu (GSM) dan Teladannya. Di postingan ini saya akan bahas 3 poin aja : Siapakah GSM, Teladan GSM, dan Bagaimana Memperlengkapi GSM.
  I.     SIAPAKAH GURU SEKOLAH MINGGU
          Siapakah GSM ? Jawaban pertanyaan ini tentu bukanlah “Setiap orang ‘awam’ di gereja.” Mengapa ? Karena menurut penelusuran dan pengamatan saya, tidak setiap orang ‘awam’ cocok menjadi GSM. Dalam pelayanan SM, tidak bisa begitu saja asal comot orang untuk jadi GSM. Saya mencatat setidaknya ada 4 kriteria yang perlu ada dalam diri seorang GSM : 
1.       GSM harus sudah lahir baru
Bagaimana anak-anak bisa diajak untuk mengenal Tuhan jika gurunya tidak mengenal-Nya ? Bagaimana anak-anak bisa mempercayai Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan jika gurunya sendiri tidak yakin akan hal itu ?
Bagaimana anak-anak bisa diajak untuk menerima Kristus  sebagai Juruselamat pribadinya jika gurunya sendiri masih bergumul di situ ?
Apa yang hendak disaksikan kepada anak-anak jika GSM tidak pernah mengalami perjumpaan pribadi kepada Sang Juruselamat ?

Syarat mutlak untuk menjadi GSM adalah kelahiran baru. Seorang yng belum menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi satu-satunya tidak layak untuk melayani anak-anak yang adalah biji mataNya. 

2.       GSM harus punya relasi dengan Tuhan setiap hari
Anak-anak Sekolah Minggu adalah kepunyaan Tuhan, biji mata yang dikasihiNya. Tuhan-lah juga yang empunya pelayanan Sekolah Minggu, GSM hanyalah hamba-hamba yang diberi-Nya mandat untuk mendidik anak-anak kesayangan Tuhan. Bagaimana supaya GSM tahu apa yang menjadi kerinduan dan kehendak Tuhan bagi anak-anak yang dilayaninya ? Tidak ada cara lain kecuali GSM punya relasi yang intim dengan Sang Pemilik Pelayanan itu melalui Firman Tuhan dan doa (saat teduh). Tuhan berbicara melalui Firman-Nya yang tertulis di dalam Alkitab. GSM harus belajar mencintai Firman yang akan menuntun hidup dan pelayanan mereka.

Tidak akan ada kuasa dalam pengajaran kepada anak-anak jika GSM sendiri tidak hidup di dalam apa yang diajarkan itu. Tidak ada kesaksian hidup yang dapat disaksikan dan dilihat oleh anak-anak. Selain itu, keintiman relasi dengan Tuhan akan memberikan kelegaan bahkan kekuatan untuk terus melayani anak-anak meskipun banyak kesulitan terjadi. 

3.       GSM harus punya hati yang teachable (=mau belajar dan diajar)
Teachable di sini bukan hanya dalam hal-hal rohani di gereja. Misalnya mau belajar Firman, diajar dalam pembinaan GSM ataupun terlibat dalam kelompok Pemahaman Alkitab (PA), dll. Tetapi juga dalam hal-hal di luar gereja seperti belajar psikologi anak, cara berbicara kepada anak, menangani anak hiperaktif, cara mendekati anak-anak, belajar metode mengajar SM, memimpin pujian, membuat alat peraga, dsb.
Ditambah dengan saat ini teknologi begitu cepat bergerak, anak-anak pun seakan terhisap di dalamnya. GSM yang tidak mau belajar dengan bijak menyikapi hal-hal itu tidak akan mampu membimbing dan memantau anak-anak. Teachable di sini juga bukan hanya untuk belajar suatu objek saja, tetapi juga termasuk di dalamnya mau dikoreksi, ditegur, diarahkan oleh orang yang lebih dewasa secara rohani

4.       GSM harus punya hati untuk anak-anak
Banyak orang (mostly, tidak semua) terlibat dalam pelayanan SM tanpa tujuan yang jelas sehingga pelayanan mereka tidak efektif, seperti air mengalir saja. Mengapa ? Karena jika ditelusuri lebih jauh (mungkin menggunakan tes karunia rohani, dsb) banyak dari mereka yang sebenarnya tidak memiliki hati untuk anak-anak. Apa artinya punya hati untuk anak-anak ? Artinya seseorang mempunyai beban/kerinduan yang mendalam agar suatu tujuan khusus dicapai dalam diri anak-anak yang dilayani. Tujuan itu adalah apa yang Tuhan mau di dalam hidup anak-anak itu.
Mengapa ini penting untuk dimiliki GSM ? Karena jika seseorang punya beban terhadap suatu hal, dia akan dengan mudah dan rela mengerahkan energi, waktu, sumber daya yang dimiliki untuk hal tersebut. Inilah yang membuat pelayanan menjadi efektif. GSM dengan hati untuk anak-anak akan sungguh-sungguh mencari maksud Tuhan bagi anak-anak yang dilayaninya.
Namun sayangnya, banyak orang yang mengidentikkan “punya hati untuk anak-anak” dengan “suka anak-anak”. Dua hal ini jelas berbeda sekali. Satu pertanyaan yang GSM perlu tanyakan kepada dirinya sendiri adalah “Mengapa memilih pelayanan SM dan bukan yang lain?” Pertanyaan ini harus dijawab secara jujur dari dalam hati. Cek apakah latar belakang terlibat dalam pelayanan SM adalah karena :
  • Suka anak-anak / anak-anak lucu dan menggemaskan
  • Ikut-ikutan teman yang jadi GSM
  • Hanya pelayanan ini yang mau menerima
  • Untuk mengisi waktu luang di hari Minggu
  • Sambil menunggu keponakan/anak Sekolah Minggu
  • Disuruh Gembala Jemaat ?
  • Kata orang lain, saya cocok di SM
  
II.     MEMPERLENGKAPI GSM
Mengajar SM bukanlah perkara yang mudah, tidak sekedar bernyanyi, bercerita, memberi persembahan, aktivitas, lalu pulang. Namun tujuan SM adalah mengenalkan anak-anak kepada Tuhan, mengajak anak untuk menerima Kristus dan pada akhirnya hidupnya diubahkan oleh Firman. Karena tujuan SM ini, maka GSM perlu diperlengkapi baik secara doktrinal maupun skill mengajar untuk melayani anak-anak. Setidaknya ada 4 sarana yang bsia digunakan untuk memperlengkapi GSM : 

1.    Kelompok Pemuridan / PA
GSM sebaiknya dan sewajarnya terlibat dalam kelompok PA. Mendengar khotbah lewat mimbar saja tidak cukup jika ingin pelayanannya berdampak bagi anak-anak. Dalam kelompok PA (lebih bagus lagi kalau ada kelompok PA GSM), GSM diajak untuk menggali kebenaran Firman dan belajar menerapkannya secara praktis dalam keseharian. Itulah yang bisa ditularkan ke anak-anak, bahkan kegagalan dan keberhasilan menerapkannya pun bisa jadi kesaksian yang hidup. Selain itu, antar GSM bisa saling terbuka mengenai kesulitan, berkat, dan saling memberi  saran berkaitan dengan SM. Hal inilah yang akan menguatkan GSM dalam melayani anak-anak. 

2.    Pembinaan dan Kamp GSM
Dunia ini cepat sekali berubah, dan tanpa sadar anak-anak pun terhisap di dalamnya. Akibatnya anak-anak sekarang ini lebih kreatif, lebih berpikiran maju, suka sesuatu yang baru, dsb. Dengan ini pelayanan SM tidak boleh berhenti di satu titik saja, tetapi harus berkembang mengikuti jaman dengan tujuan memenangkan anak-anak dari dunia. Oleh karena itu, sesekali GSM perlu di-upgrade dengan mengikuti pelatihan/kamp GSM. Di dalam kamp ini, antar GSM bisa mendapat pembinaan, skill baru dalam mengajar, saling berbagi metode dan pengalaman, serta sebagai sarana studi-banding dengan gereja lain. Kamp ini bisa diadakan sendiri oleh satu sinode gereja, ataupun dengan mengikuti kamp GSM yang diadakan sekolah-sekolah teologia.

3.    Tes Karunia Rohani dan Minat-Bakat
Pernah mendengar ungkapan “the right man in the right place” ? Saya rasa ungkapan ini ada benarnya. Orang yang tepat di tempat yang tepat akan lebih efektif dalam mengerjakan sesuatu. Demikian juga dalam pelayanan SM, setiap GSM perlu untuk mengikuti tes Karunia Rohani dan Minat-Bakat. Apa tujuannya ? Supaya bisa tahu masing-masing GSM itu tepat melayani di bidang apa. Mungkin ada yang memang punya hati untuk anak-anak tetapi tidak cakap mengajar, ada orang yang sangat teliti dan suka kerapian. Atau ada orang yang memang sangat kreatif sekali tetapi tidak bisa jika disuruh duduk memikirkan materi/kurikulum SM.

Dengan tau minat-bakat dan karunia yang dimiliki tiap GSM, akan lebih mudah menempatkan GSM itu di bidang apa. Sebenarnya, pelayanan SM itu tidak identik dengan mengajar saja dan tidak setiap orang yang terlibat dalam pelayanan SM harus mengajar. Ada bidang-bidang lain yang juga membutuhkan orang-orang yang tepat. Dari pengamatan, saya mencatat setidaknya ada 4 bidang dalam pelayanan SM yang belum dikelola dengan baik :
1.Merancang Kurikulum
Bidang ini membutuhkan orang-orang yang punya pemahaman yang teguh akan pengajaran doktrinal, memahami psikologi perkembangan anak, serta punya visi yang jelas untuk pelayanan SM ke depan. Bidang ini tentu saja harus dibimbing oleh setidaknya 1 orang Pendeta/Evangelis yang belajar Teologi supaya kurikulum yang dibuat tidak menyimpang dari Firman Tuhan.

2. Aktivitas dan alat peraga
Bidang ini memerlukan orang-orang yang kreatif dan inovatif. Anak-anak akan lebih mudah memahami suatu pelajaran jika menggunakan visualisasi. Visualisasi ini bisa berupa gambar 2D/3D, powerpoint, movie clip, dsb. Selain itu untuk lebih memaknai pelajaran yang diberikan serta supaya anak-anak tidak bosan, diperlukan juga aktivitas yang berkaivitan dengan pelajaran hari itu. Akan lebih efektif jika dalam bidang ini ada 1 tim yang mengelola, memikirkan dan menyediakan alat peraga dan aktivitas tiap pelajaran untuk masing-masing kelompok usia.

3. Musik
Tidak kalah pentingnya adalah bidang musik. Orang-orang yang terlibat di sini tentu saja harus bisa bermain min. 1 jenis alat musik dan mengerti dalam musik dan nyanyian (nada, tempo, dll). Bidang ini tidak sebatas hanya mengiringi sewaktu SM berlangsung. Namun lebih dari itu, membuat aransemen baru dari lagu2 SM (supaya suasana berbeda), membuat lagu-lagu baru untuk topik tertentu (misal tentang buah roh, 10 hukum Allah, 10 tulah, kitab2 PL&PB, ayat-ayat emas, dll), dengan tujuan supaya anak-anak lebih mudah menghafalnya.

4. Inventaris
Bidang ini membutuhkan orang-orang yang menyukai kerapian, teliti dan tekun. Tugas dari bidang ini adalah mengelola segala harta benda milik SM, termasuk buku-buku pendamping, modul, handout, alat peraga, kaset, properti-properti lain seperti boneka, pensil warna, alat tulis, dsb. Tujuannya adalah supaya semuanya terorganisir, rapi dan jika suatu ketika membutuhkan akan lebih mudah mendapatkannya.

 III.     TELADAN  GSM
Keteladanan lebih berbicara daripada seribu perkataan berhikmat.
Satu hal yang seringkali dilupakan – tidak disadari – dianggap sepele – oleh GSM adalah tentang keteladanan. Tidak akan ada gunanya pengajaran yang berapi-api atau menyentuh perasaan anak-anak jika tidak ada kesaksian hidup dari GSM. GSM jangan pernah mengira bahwa anak-anak tidak mengamati (bahkan tanpa sadar terekam di dalam ingatannya) hidup mereka. Secara pribadi, saya sedih melihat GSM yang tidak bisa menjaga kata-katanya. Banyak dari GSM masih suka mengumpat, berbicara kasar, perkataan sia-sia, candaan2 tidak seharusnya (misal mengejek kondisi fisik teman GSM lain, memberi julukan, dll), bergosip, dan dilakukan bahkan ketika selesai mengajar. Anak-anak itu melihat.
Hal lain yang juga perlu jadi keprihatinan adalah bahwa seorang GSM di sebuah gereja (berdasarkan sharing seorang teman) kedapatan film-film porno di HP-nya, candaan-nya juga berbau porno. Bagaimana dengan semuanya itu bisa mengajarkan anak untuk hidup dalam kekudusan seksual ?  Satu hal lagi yang saya rasa banyak terjadi di gereja-gereja adalah tren putus-nyambung pacaran dengan sesama GSM. Maksudnya pacaran dengan si A, lalu putus, kemudian beberapa bulan kemudian dengan GSM lain, sedangkan si A itu memulai hubungan baru dengan GSM lainnya lagi. Anak-anak itu melihat. Ada kemungkinan ketika besar nanti mereka juga akan sulit menghargai komitmen karena tanpa sadar hal itu terekam dalam pikirannya, dan dianggap sebagai hal yang wajar.
 

Sekian part 3 dari Children Ministries, akhirnya selesai juga ... :D


Note : Semua yang saya tulis bukan berarti harus suci dan benar jika mau menjadi GSM karena tidak ada seorangpun yang benar :)

Minggu, 08 Januari 2012

CHILDREN MINISTRIES – Part II


         Posting sebelumnya kita bicara tentang pentingnya pelayanan anak, dasar di Alkitab dan apa teladan Tuhan Yesus dalam hal ini (di SINI). Di posting ini kita akan bahas secara lebih khusus tentang Pelayanan Sekolah Minggu. Sekolah Minggu (SM) adalah bentuk utama dari Pelayanan kepada anak-anak di dalam lingkungan gereja. Ada 2 poin yang akan secara khusus saya bahas, yaitu tentang sejarah SM dan Pentingnya Pelayanan SM.
A.   SEJARAH SEKOLAH MINGGU
                Bila kita berbicara tentang Sekolah Minggu, mau tidak mau kita akan menyinggung nama Robert Raikes. Beliau adalah tokoh pencetus gerakan Sekolah Minggu di Inggris. Pada akhir abad 18, Inggris sedang dilanda krisis ekonomi yang parah. Setiap orang bekerja keras termasuk anak-anak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saat itu, Robert yang berproesi sebagai wartawan sedang bertugas meliput berita tentang anak-anak gelandangan bagi sebuah koran. Robert sangat prihatin karena anak-anak itu harus bekerja dari hari Senin sampai Sabtu. Hari Minggu adalah satu-satunya hari libur yang mereka habiskan untuk bersenang-senang. Karena tidak berpendidikan, anak-anak itu menjadi liar, bermabuk-mabukan dan melakukan kejahatan. Melihat itu semua, Robert bertekad untuk mengubah keadaan. Ia mencoba mengundang anak-anak itu berkumpul di dapur milik Ibu Meredith. Selain diberikan makanan, mereka juga diajarkan sopan santun termasuk membaca dan menulis. Namun, hal paling indah yang diterima anak-anak di situ adalah kesempatan mendengar cerita-cerita Alkitab.
                Awalnya, pelayanan ini tidak mudah. Banyak anak yang datang dengan keadaan sangat kacau. Namun, dengan disiplin Robert mengajar mereka. Kadang mereka harus dipukul, tetapi itu dilakukan dengan cinta kasih. Perlahan, anak-anak itu mau dididik dengan baik. Perjuangan yang sulit tapi melegakan. Setelah 4 tahun berlalu, jumlah anak-anak yang datang ke sekolah hari minggu terhitung mencapai 250.000 anak di seluruh Inggris di berbagai kota. Mula-mula gereja tidak mau mengakui gerakan Sekolah Minggu ini. Tetapi karena kegigihan Robert dan atas bantuan dari John Wesley (pendiri gereja Methodis), akhirnya gerakan ini bisa diterima oleh gereja Methodis dan gereja lainnya.
                Dari pelayanan ini, Inggris tidak hanya terselamatkan dari revolusi sosial, tetapi juga dari generasi yang tidak mengenal Tuhan. Gerakan Sekolah Minggu ini akhirnya menajalr ke berbagai tempat di dunia, termasuk Indonesia.


B.    PENTINGNYA PELAYANAN SEKOLAH MINGGU
                Dari sejarah Sekolah Minggu di Inggris tersebut, dapat kita simpulkan bahwa bentuk pelayanan seperti itu kepada anak-anak adalah penting karena mampu menyelamatkan Inggris di masa depan. Kita melihat bahwa dampak pelayanan itu tidak hanya dirasakan saat itu saja, tetapi juga sampai di waktu mendatang (punya dampak jangka panjang).
                Demikian halnya, pelayanan Sekolah Minggu di gereja adalah bentuk pelayanan yang penting, tidak boleh diabaikan, dianggap remeh dan tidak boleh sembarangan dalam mengelolanya. Untuk ini saya menyukai sebuah ungkapan yang saya dapatkan dari sebuah web : “ Gereja yang tidak memperhatikan pelayanan  anak, akan melihat sendiri hasilnya dalam kurun waktu 10-20 tahun ke depan, tetapi gereja yang memperhatikan pelayanan anak akan memetik buahnya dalam kurun waktu yang sama, bahkan jauh sebelumnya.

Apa pentingnya pelayanan Sekolah Minggu (SM) bagi gereja ?
1.       Pelayanan SM adalah Pilar dasar untuk mengenalkan anak-anak terhadap Tuhan
           Melalui SM, anak-anak diajar untuk mengenal siapa Allah. Mereka juga diajarkan mengenai karya penciptaan alam semesta oleh Allah, sampai pada karya Tuhan Yesus di kayu salib. Anak-anak itu juga diajak untuk melihat apa karya Tuhan dalam hidupnya dan keluarganya. 
2.       Pelayanan SM menentukan masa depan dan keberlangsungan gereja
           Apa yang akan terjadi bila sebuah gereja dipimpin oleh orang-orang yang mengaku Kristen tetapi tidak lahir baru, tidak mencintai Tuhan dan tidak mengerti apapun mengenai Alkitab (karena tidak pernah dididik sejak kecil) ? Bayangkan seperti apa jadinya gereja itu. Atau lebih parahnya lagi (walaupun sebenarnya sama saja), sebuah gereja harus tutup karena kehilangan  generasi penerusnya.
3.       Pelayanan SM membantu memberikan pengajaran moral kepada anak-anak
           Memang benar bahwa bukan hanya gereja saja yang mampu memberikan pengajaran moral kepada anak-anak. Namun, menurut pengamatan saya ada hal yang secara khusus membedakan pengajaran moral (berbuat baik) di gereja dan di luar gereja, yaitu titik berangkat perbuatan baik itu dilakukan.
           Di dalam gereja, anak-anak diajar melakukan perbuatan baik dengan titik berangkat alasan mereka melakukannya, atau identik dengan kata “karena...”. Sedangkan di luar gereja, anak-anak diajar melakukan perbuatan baik dengan titik berangkat tujuan mereka melakukannya, atau identik dengan kata “supaya...”. Sebagai contoh, di luar gereja anak-anak diajar untuk saling menyayangi, tidak memusuhi teman dengan maksud supaya mereka juga disayangi dan diterima oleh teman-teman mereka. Anak-anak diajar untuk tidak mencuri, berbohong, dsb supaya mereka tidak dihukum, dikucilkan karena merugikan orang lain, dll. Di dalam gereja, anak-anak diajar untuk saling menyayangi karena dia telah lebih dulu disayangi Tuhan. Mereka diajar untuk tidak mencuri dan perbuatan buruk lain karena itu semua dosa dan Tuhan tidak senang. 


Continue (Children Ministries Part IIIGuru Sekolah Minggu dan Teladannya)


Sumber : 
http://sekolahmingguanak.blogspot.com/
http://www.perkantasjatim.org/index.php?g=articles&id=71